Berikut petikan wawancara dengan wartawan detik.com di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (15/4/2008). Tanya jawab ini berkaitan dengan rencana pernikahan kedua Ustadz Hidayat dengan dr Diana Abbas Thalib.
Pak, bisa berbagi mengenai kabar gembira yang baru terjadi semalam?
Jadi intinya ini sekalian undangan bagi rekan-rekan wartawan. Insya Allah nanti pada tangal 10 Mei tempatnya di Jakarta. Persisnya kami akan pastikan. Ini karena mungkin bagi rekan-rekan wartawan ingin sejenak melepas lelah.
Pak, kita dikasih undangan nggak?
Insya Allah nggak perlu pakai undangan, rekan-rekan wartawan sudah mengumumkan.
Jadi benar akan segara menikah?
Prinsipnya memang demikian, jadi itu bukan gosip. Bukan sesuatu yang harus dicek dan ricek. Itu memang suatu fakta yang terjadi kemarin malam. Tentu itu sesuatu yang sengaja dilakukan. Bukan karena iseng apalagi tidak sengaja atau dipaksa orang. Itu memang sesuatu yang secara sadar dilakukan. Karena beberapa hal.
Yang pertama, tentu sebagai orang Indonesia yang beriman dan bertakwa pada Tuhan Yang Maha Esa, agama kita mengajarkan untuk melengkapkan ajaran agama. Dalam agama Islam, yang namanya melengkapkan ajaran agama itu kalau berkeluarga. Itu yang pertama.
Yang kedua, tentu saya punya anak dan anak itu perlu banyak orang. Saya juga merasakan pentingnya ada seorang ibu yang mengelolanya, menyentuhnya, dan membimbingnya serta mendidik anak-anak.
Dan nomor tiga, dalam ajaran Islam, ada ajaran bahwa kalau wanita itu setelah ditinggal mati suaminya ada masa iddahnya. Kalau laki-laki kan nggak ada. Ya wajar saja kalau sejak hari pertama (istri meninggal) ya diusulkan calon dan macam-macam. Ini sebetulnya diajukan atau diperkenalkan.
Saya diperkenalan oleh Ibu Yoyoh Yusroh, anggota DPR dari PKS. Beliau kawan saya sejak lama. Sama-sama mendirikan Partai Keadilan, Partai Keadilan Sejahtera. Dan sama-sama aktif dalam lembaga dakwah kampus serta majelis taklim.
Karenanya saya tentu sangat percaya dengan beliau. Dan beliau dokter Diana ini murid ngajinya Ibu Yoyoh Yusroh. Beliau (Yoyoh) kenal saya. Bu Diana itu murid beliau. Tentu bukan karena tidak enak untuk menolak. Tidak, tapi karena beliau mengenal kami dengan baik dan kenal beliau (Diana) dengan baik.
Dan karenanya beliau (Yoyoh) memperkenalkan kami dan kami saling mempercayai. Komitmen besar kita sama untuk menghadirkan dan membentuk keluarga yang sakinah.
Sebelumnya Bapak sudah kenal dengan dr Diana?
Belum, belum kenal baru satu bulan ini.
Kok mau dijodohkan?
Ya kalau yang menjodohkan itu orang yang baik, kawan kita yang sangat lama dan murid beliau (Yoyoh), Anda pun juga pasti mau kalau dijodohkan.
(Jawaban ini sontak saja membuat wartawan tertawa.Wartawan kemudian memberikan ucapan selamat).
Ya Insya Allah terima kasih mudah-mudahan semua lancar. Para wartawan yang muda-muda ini segera saja menikah. Tapi kalau sudah punya jangan nambah lagi ya.
tambahan wawancara dengan dr Diana Abbas Thalib
Bagaimana proses perkenalan dengan Pak Hidayat?
Secara pribadi saya dikenalkan oleh guru ngaji, kebetulan teman baik beliau.
Siapa, Bu?
Ibu Yoyoh.
Kapan?
Belum lama ya, kira-kira 3 minggu lalu.
Kami berta'aruf itu bertemu besama beberapa teman. Mungkin 2-3 kali ketemu, pertemuan keluarga, sampai ke acara lamaran.
Hampir mirip film Ayat-ayat Cinta itu ya?
(Tokoh pria) Ayat-ayat Cinta-nya bukan ketua MPR. Jadi lebih enak, lebih simpel.
Apa ta'aruf Ketua MPR lebih rumit?
Iyalah. Tapi saya sih berpikir lebih sederhana saja, mengenal beliau secara pribadi. Tidak melihat beban yang lain. Tapi mau nggak mau, itu menjadi satu kesatuan, itu satu paket. Saya harus beradaptasi.
Ibu mengenal Pak Hidayat dan akan menikah pada 10 Mei, persiapannya gimana? apa sudah mantap, kan ada anak-anak?
Pertama kali kita berta'aruf, kita memperkenalkan diri masing-masing. Walaupun kami punya background yang sedikit berbeda, tapi kami punya tujuan hidup yang sama.
Visi hidup kami sama. Dan setelah merasa match, kami ketemu anak
masing-masing. Saya ketemu dengan anak beliau, dan alhamdulillah mereka butuh figur ibu. Insya Allah saya bisa berikan itu.
Dan anak saya butuhkan kasih sayang dan perlindungan ayah dan Pak Hidayat juga insya Allah bisa menganggap anak saya sebagai anaknya sendiri.
Dan ketiga kami berta'aruf dengan orangtua dan mereka mensupport dan merestui, barulah kami sampai di-khitbah (lamaran). Insya Allah akan dilanjutkan dengan akad nikah pada Mei.
Sebelum diperkenalkan Ibu sudah sempat baca profil Pak Hidayat?
Saya sih sering dengar nama besar beliau. Namun tidak terpikir sama sekali, bahkan ada keraguan mampu nggak saya mendampinginya mengingat image dan kharisma beliau cukup tinggi.
Namun beliau men-support dan banyak teman-teman yang membantu supaya proses adaptasinya berjalan.
Dulu waktu kecil cita-cita Ibu apa?
Waktu kecil saya tidak visioner, ayah saya seorang dokter dan saya membantu ayah. Saat tamat SMA saya disarankan melanjutkan sekolah kedokteran jadi nggak terlalu sulit.
Karena saya ingin balance dengan rumah tangga, saya ambil sekolah manajemen. Harapan saya dengan manajemen bisa membuat saya membagi waktu dengan keluarga.
Jika nanti menikah dengan Pak Hidayat, harus membesarkan 5 anak (Hidayat punya 4 anak, Diana 1 anak). Apa langkah-langkah Ibu?
Kita belum terlalu bicara ke sana. Kita punya visi yang sama. Kita ingin mengantarkan anak kita yang saleh dan membuat mereka bisa menjadi orang-orang yang bisa berbuat sesuatu yang berarti buat umat.
Komitmen saya, saat ini konsolidasi dulu di mana kami saling adaptasi. Baru bertahap ke aktivitas lain.
Apa yang berkesan dari Pak Hidayat?
Saat itu yang ada dalam benak saya perasaan apa saya mampu mendampingi beliau karena mengingat background dan posisi beliau. Ada keraguan di benak saya, karena melihat saya berkemauan keras insya Allah.
Di samping saya mendapatkan imam, saya bisa support dan mendapat kesempatan untuk berkontribusi.
Bagaimana tanggapan Ibu saat ta'aruf (perkenalan) dengan Pak Hidayat?
Ta'aruf sepertinya saya berpikir akan mengenal sosok yang menjadi panutan, beliau ketua MPR.
Saya bilang berkesempatan untuk berkenalan. Ekspektasi saya tidak terlalu tinggi, itu yang membuat saya berani untuk bertemu beliau.
Dengan pertemuan itu saya suprise dengan sosok Pak Hidayat yang sederhana, rendah hati, kemudian sabar, mungkin beda dengan karakter saya yang energik dan dinamis.
Di sana juga ada Ibu Yoyoh, kita bicara biasa saja tapi secara tidak kami sadari, kami menggambarkan sedikit profil kami.
Sebelum ta'aruf kami sudah dapatkan data beliau. Saya membaca profil beliau dengan membaca internet dan koran.
Kalau ingat posisi, akhirnya semua bilang kita akan membantu. Kemudian saya diberikan waktu secara bertahap untuk beradaptasi dengan aktivitas dan lingkungan beliau.
Aktivitas Pak Hidayat apa membikin beban?
Saya pikir kalau kita tahu betul tentu sadar bahwa saya tidak bisa menjadi istri biasa-biasa saja untuk suami seperti beliau.
Saya harus menjadi istri lebih dari biasa, baik di samping mengurus anak-anaknya, kemudian kegiatan di kenegaraan dengan banyak aktivitas lain. Saya harus menjadi istri lebih dari biasa.
Kalau Pak Hidayat menjadi presiden persiapan Ibu bagaimana?
Saya berpikir untuk ta'aruf semata-mata ingin membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah, itu yang utama. Saya tidak berpikir yang terlalu jauh.
Namun saya tidak bisa memungkiri karena kondisi yang dijalani beliau. Apa pun perjalanan hidup suami saya, baik suka maupun duka akan saya dampingi. Saya akan support apa pun bentuknya.
Apa tanggapan Ibu tentang publikasi istri pejabat publik?
Tidak semua pejabat publik diekspos. Lebih baik mengekspos suaminya.
Jadi, istri politisi nggak usah dipublikasikan?
He-eh, saya pikir kembali pada core. Kalau politisi, politisinya. Tugas istri kan tidak menjadi politisi, tapi mensupport suaminya. Apa pun kegiatan suaminya, tugas istri mensupport.
Saya belum bicara sejauh itu karena kami belum menjadi suami istri. Dalam nikah baru kami akan saling mengenal. Seberapa kontribusi saya, seberapa yang diinginkan suami saya.
Ibu pribadi nggak ingin dipublikasikan?
Kalau saya sih cenderung yang tidak suka tampil, tapi suka berkarya.
Kalau difoto bagaimana?
Saya nggak terlalu suka foto. Di HP saya tidak ada gambar apa pun.
Nggak ada foto?
Nggak ada, aman kalau hilang. Nggak ada data apa-apa. Saya nggak gitu suka, sebetulnya suka melihat tapi saya tidak tipe yang punya banyak waktu. Saya fokus ta'aruf keluarga dan persiapan pernikahan.
pada versi wawancara sebelumnya dengan resume seperti dibawah ini
Menurut Diana dirinya dikenalkan dengan Hidayat oleh guru mengajinya, Yoyoh Yusroh. Yoyoh adalah juga Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI. Selanjutnya Hidayat dan Diana berta'aruf (berkenalan) yang dilanjutkan dengan lamaran pada Senin 14 April semalam.
"Kami berta'aruf. Kami bertemu 2-3 kali dengan didampingi teman-teman," jelas wanita berjilbab keturunan Arab ini.
Pertemuan ini, lanjut Diana, termasuk juga pertemuan dengan anak-anak Hidayat dan Diana. Dua keluarga juga telah saling diperkenalkan.
"Saya surprise, Pak Hidayat sederhana, rendah hati dan sabar, berbeda dengan karakter saya yang energik dan dinamis. Saya tidak pernah berpikir akan dilamar beliau," ungkap Diana yang menolak difoto ini.
Meski memiliki darah Arab, dr Diana Abbas Thalib tidak memilih pendamping yang juga keturunan Arab. Bagi calon istri Ketua MPR Hidayat Nurwahid, hal itu bukan menjadi hal yang besar.
"Kenyataannya beliau (Hidayat) lebih Arab, sejak usia 13 tahun sudah di Arab. Kalau saya casing Arab tapi semuanya sudah Jawa," kata Diana sambil tersenyum
Menurut Diana, masalah kultur bukan suatu hal yang sulit untuk diadaptasikan.
Bagi perempuan 42 tahun ini, baru 3 minggu mengenal Hidayat lewat guru mengajinya, Yoyoh Yusroh, bukanlah masalah. Baginya itu sudah cukup.
"Pertama ta'aruf, kita sudah sama-sama mendapat gambaran pribadi dan latar belakang. Kita merasa punya background yang berbeda tapi punya tujuan hidup yang sama," ujar CEO sebuah rumah sakit ibu dan anak ini di Pondok Bambu, Jakarta Timur, ini.
Perempuan cantik dan smart ini mengaku dirinya sudah sering mendengar nama Hidayat. Namun dia tak pernah berpikir akan menikah dengan Hidayat.
"Saya sering dengar nama besar beliau, namun tidak terpikir sama sekali (menikah dengan Hidayat). Bahkan ada keraguan mampu nggak saya mendampingi beliau," ujar perempuan berbulu mata lentik ini.
berikut profil dr diana abbas thalib
Diana merupakan dokter lulusan UKI tahun 1990. Dia lalu mengambil S2 di UI. Diana merupakan penyayang anak-anak dan binatang. Untuk menyalurkan rasa cintanya pada binatang, Diana memelihara seekor kucing ras bernama Michael yang berusia 2 tahun.
Diana sejak kecil dididik orangtuanya untuk berdisiplin dan bekerja keras. Dia merupakan anak kedua dari 4 bersaudara. Ayahnya, Abbas Thalib, merupakan dokter. Sedangkan ibunya adalah ibu rumah tangga asal Pekalongan. Darah Arab mengalir di tubuh Diana.
Diana menghabiskan masa kecilnya di Pekalongan. Namun saat usia 6 tahun sudah hijrah ke Jakarta sehingga logat khas Jawa tidak kentara.
Wanita berhidung bangir ini memang senang bekerja. Baginya tak ada yang tidak mungkin untuk dilakukan.
"Kalau ingin sesuatu saya akan berusaha untuk mencapainya. Buat saya tidak ada kata impossible. Impossible is nothing,"
Diana merupakan wanita pekerja keras. Dalam sehari dia bisa menghabiskan waktu 12 jam berkutat dengan pekerjaanya. Namun seiring dengan berjalannya waktu, Diana pun membatasi waktu kerjanya.
"Saya tidak mau lagi hard work tapi work smart. Saya tidak lupa dengan kodrat sebagai wanita," imbuh dia.
Selain cinta binatang, Diana juga senang memasak kue. Menurut wanita cantik ini, hobinya pun sudah banyak berubah dari masa mudanya. Dulu dirinya senang membaca novel dan membaca buku.
"Saya hobinya bikin kue dari pada masakan berat kan lebih enak,"
dikutip dari detik.com
18 comments:
lUMAYAN LENGKAP NIH BERITANYA. TERIMA KASIH
Semoga mendapatkan rahmat dan menjadi keluarga yang mawadah wa rahmah. Amin.
mudah- mudahan bisa jadi keluarga yang SAMARA (Sakinah, mawadah wa rahmah)
amin
[...] Dan nomor tiga, dalam ajaran Islam, ada ajaran bahwa kalau wanita itu setelah ditinggal mati suaminya ada masa iddahnya. Kalau laki-laki kan nggak ada. Ya wajar saja kalau sejak hari pertama (istri meninggal) ya diusulkan calon dan macam-macam. Ini sebetulnya diajukan atau diperkenalkan. Lebih lengkap lihat di sini. [...]
Syukurlah Bapak sudah menemukan kembali jodoh. Kasian juga deh kalau Bapak berlama-lama sendirian. Saya ikut gembira dan saya do'akan semoga Bapak berbahagia.
Alhamdulillah Ustadz Hidayat dah nikah lagi. Semoga diridhoi Allah.amin
Alhamdulillah.....
saia jadi tambah termotivasi mau menyempurnakan sebagian dari agama...
Semoga menjadi keluarga sakinnah dan senantiasa mendapat ridho dari Allah,
Amin
barakallah... sungguh perpaduan yang indah antara seorang dokter ruhani dengan dokter ragawi. kayaknya cocok jadi presiden dan ibu negara buat indonesia yg lagi sakit berat ini....
semoga menjadi kelurga yang sakinah, mawadah, dan warohmah.
Amin.
@andz : Setuju !! Setuju!!
@Ramadhan : Sa-Ma-Ro, Amin!
tapi memang orang-orang punya tanggapan sendiri atas rencana pernikahan ini ..
salah satunya berikut ini:
http://hmcahyo.wordpress.com/2008/04/18/ketua-mpr-mau-nikah-kok-protes/
Alhamdulillah. Terimakasih atas infonya yang lengkap dan deskriptif. Semoga pasangan mempelai dibimbing-Nya membina keluarga sakinah mawaddah wa rahmah, amiin.
Mantaf !
semoga rencana pernikahannya berjalan lancar,
dan menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah, amin. :)
barakallahu lak
Alhamduillah...barakallahu laka....fii khoir...tapi koq ketika ngomong ke wartawan, beliau state "kalo yg sudah nikah, jangan nambah lagi???" Aneh banget deh...apakah beliau termasuk orang yang menentang poligami ya...?
amien
Post a Comment